Pada masa pendudukan Belanda tahun 1699, VOC (Perusahaan Hindia Timur Belanda) membawa bibit kopi Arabika ke Indonesia. Bertujuan untuk memecah monopoli Arab dalam perdagangan kopi dunia, mereka mulai membudidayakan kopi di wilayah Batavia (sekarang Jakarta). Pada masa itu, Indonesia menjadi wilayah pertama di luar Arab dan Etiopia yang membudidayakan kopi. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak perkebunan kopi dibuat di wilayah Jawa serta di beberapa bagian Sumatera dan Sulawesi.
Empat abad kemudian, kini, Indonesia menjadi penghasil kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Biji kopi Indonesia yang terus dihasilkan hingga saat ini meliputi varietas Arabika, Robusta, dan Liberika. Lebih dari 90% biji kopi yang diproduksi di Indonesia dibudidayakan oleh petani skala kecil di tanah pertanian yang luasnya rata-rata satu hektare atau kurang. Sebagian besar biji kopi yang dihasilkan merupakan kopi organik, dan banyak koperasi serta eksportir Indonesia yang telah memiliki sertifikasi internasional untuk menjual biji kopi organik ke luar negeri.
Berikut adalah lima jenis biji kopi Indonesia paling terkenal.
Gayo adalah wilayah perbukitan di ujung utara Sumatera. Kopi yang tumbuh di wilayah ini memiliki cita rasa unik dan khas. Berkat praktik perdagangan yang adil bagi para petani, kopi Gayo berhasil meraih sertifikasi Fair Trade dari International Organization of Fair Trade pada tahun 2010. Kopi ini juga masuk nominasi sebagai kopi terbaik di dunia dalam International Conference on Coffee Science. Biji kopi Gayo dibudidayakan oleh petani kecil menggunakan teknik pengolahan tradisional bernama giling basah, yang menghasilkan kopi dengan cita rasa yang segar dan tekstur yang ringan.
Wilayah dataran tinggi Kintamani, yang diapit Gunung Batukaru dan Gunung Agung, merupakan daerah utama perkebunan kopi di Bali. Di sini, kopi dibudidayakan dengan sistem tradisional Subak Abian, yang berfokus pada keharmonisan antara manusia dan alam, yang juga dikenal sebagai konsep Palemahan. Prinsip ini mendukung praktik budidaya yang memperhatikan kelestarian lingkungan, menjadikannya tempat yang sempurna untuk menanam kopi Fair Trade dan organik. Kopi Kintamani memiliki ukuran biji yang besar dan tekstur yang kental dengan aroma bunga dan lemon.
Bentang alam Flores memiliki kontur yang terjal dengan banyak gunung berapi, baik yang masih aktif maupun tidak aktif. Abu vulkanik dari gunung berapi tersebut menciptakan kondisi tanah yang ideal sebagai penghasil kopi organik. Mayoritas kopi ditanam di bawah naungan pepohonan dan diolah menggunakan metode tradisional pemrosesan basah. Kopi Bajawa memiliki keasaman yang rendah dan tekstur yang kental, dengan aroma cokelat manis, bunga-bungaan, dan vanila.
Perkebunan kopi pertama didirikan di Jawa Barat oleh VOC, dengan fokus pada varietas Arabika yang memiliki nilai jual tinggi. Saat ini, produksi kopi terpusat di Dataran Tinggi Ijen yang terletak di Jawa Timur, yang sebagian besar ditanam di perkebunan luas yang dibangun oleh Belanda pada abad ke-18. Kopi Jawa memiliki tekstur yang kental, keasaman yang rendah, dengan cita rasa yang cenderung kasar dan beraroma herba di akhir rasanya.
Dataran Tinggi Toraja di Sulawesi adalah wilayah utama penghasil Arabika. Mayoritas kopi yang dihasilkan di Sulawesi dibudidayakan oleh petani kecil yang masih memegang teguh tradisi, termasuk dalam pemrosesan kopinya. Metode giling basah yang mereka terapkan menghasilkan biji kopi dengan tingkat keasaman yang rendah, dengan cita rasa berkayu dan sedikit sentuhan aroma tanah.
Indonesia masih mengekspor mayoritas hasil produksi biji kopinya. Tetapi sejak beberapa dekade terakhir, konsumsi kopi di negeri ini sedang meningkat, dan diperkirakan akan terus berkembang ke depannya. Berkat minat baru dari para generasi muda, kopi kini menjadi gaya hidup, khususnya di kalangan kelas menengah perkotaan yang terus berkembang. Meningkatnya budaya kopi ini juga menjadi pertanda kemajuan ekonomi.
Seiring dengan permintaan yang meningkat ini, ratusan kedai kopi independen dan roastery bermunculan di seluruh Nusantara. Sebagian besar di antaranya adalah specialty roaster dan kedai kopi artisanal, khususnya di Jakarta dan Bali, yang berfokus pada biji kopi lokal single-origin dari seluruh Indonesia. Perusahaan-perusahaan ini membeli biji kopi lokal dan membangun hubungan yang kuat antara penjual dan roaster, serta pelanggan setia mereka, menjadikan momen sederhana menyeduh kopi sebagai pengalaman sosial dan komunal yang menyenangkan.
Thinking about in-house roasting or starting a micro roastery? Here's what to consider before buying…
Ingin mulai roasting kopi sendiri? Pelajari dasarnya dan tips agar hasil roasting Anda selalu konsisten…
See what happens when efficient hot air roasters are combined with heat recovery systems and…
Coffee roasting terms are full of jargon, and it is no wonder some of them…
Inconsistent roasts despite the same settings? Your environment might be the culprit. Learn how to…
Get to know the causes of green coffee bean defects and how to prevent them…